Kudeta Kepagian di Jalanan

ANTERO NEWS NETWORK

- Redaksi

Minggu, 7 September 2025 - 23:32 WIB

50389 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

AKSI unjuk rasa massal yang berujung rusuh antara 28 Agustus hingga 2 September 2025 membuka tabir betapa rapuhnya fondasi politik dan betapa mudahnya demokrasi dibajak oleh syahwat kekuasaan. Demonstrasi yang awalnya menyuarakan tuntutan mengadili Jokowi dan memakzulkan Gibran, tiba-tiba bergeser menjadi seruan membubarkan DPR. Pergeseran cepat ini bukan sekadar ekspresi spontan massa, melainkan menyingkap adanya operasi narasi yang dirancang dengan cermat. Publik melihat pergeseran itu sebagai tanda demonstrasi rakyat telah dibajak oleh kepentingan politik jangka panjang, sehingga jalannya protes berubah menjadi panggung kontestasi elite.

Fenomena ini sejalan dengan teori Samuel Huntington dan Guillermo O’Donnell yang menekankan bagaimana instabilitas dalam demokrasi baru sering dimanfaatkan oleh kelompok politik untuk mendeligitimasi kekuasaan. Apa yang terjadi pekan lalu memperlihatkan cermin teori itu, dimana sebuah aksi yang sejatinya kanal aspirasi rakyat dimanipulasi menjadi alat pertarungan kekuasaan. Putra mahkota politik yang sebelumnya digadang sebagai penerus mengalami degradasi legitimasi publik yang serius. Survei Litbang Kompas Juli 2025 menunjukkan tingkat kepercayaan publik kepada Gibran Rakabuming anjlok hingga di bawah 35 persen, level terendah sejak ia masuk panggung politik nasional. Narasi mengadili Jokowi menjadi ancaman serius bagi jejaring Jokowisme. Maka muncul strategi defensif: mengalihkan sasaran dengan menjadikan DPR sebagai target serangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun strategi itu justru memperlihatkan kepanikan. Seruan “bubarkan DPR” yang disebar melalui buzzer dan jejaring media sosial terkesan sebagai upaya membegal demo, mendaur ulang narasi agar kemarahan publik tidak sepenuhnya diarahkan pada Jokowi dan Gibran. Alih-alih meredam, langkah itu malah membuka ruang spekulasi adanya grand scenario yang lebih besar: menciptakan chaos, lalu menuntut Presiden Prabowo turun dengan alasan gagal menjaga stabilitas nasional. Pola kerusuhan yang terjadi di berbagai kota juga terlalu seragam untuk dianggap kebetulan. Kantor-kantor polisi yang seharusnya menjadi objek paling terlindungi justru jatuh begitu mudah ke tangan massa. Laporan lapangan memperlihatkan lemahnya pengamanan di sejumlah titik strategis. Dalam studi keamanan, ini dikenal sebagai calculated disorder, kekacauan yang dibiarkan untuk mempercepat delegitimasi rezim.

Kerusakan dan pembakaran terhadap kantor kepolisian di berbagai daerah menjadi indikator bahwa protes sudah keluar dari jalur aspirasi politik normal. Kerusuhan ini menyerupai skenario kudeta dini yang terlalu tergesa-gesa, sebuah kudeta kepagian. Bahkan sebagian analis menyebutnya sebagai uji coba untuk mengukur kelemahan institusi keamanan negara. Jika kepolisian bisa dilumpuhkan dengan begitu mudah, maka legitimasi pemerintah otomatis dipertanyakan. Tuduhan bahwa aparat melakukan pembiaran semakin menguatkan dugaan adanya infiltrasi atau setidaknya dualisme loyalitas dalam tubuh negara.

Di titik inilah ujian besar datang bagi Presiden Prabowo. Literatur politik transisional dari O’Donnell hingga Levitsky menekankan bahwa respons seorang pemimpin terhadap krisis pertama selalu menentukan arah konsolidasi demokrasi. Jika Prabowo memilih sikap normatif, publik akan menafsirkan itu sebagai pembiaran. Sebaliknya, tindakan tegas yang berorientasi pada kepentingan rakyat bisa menjadi pijakan untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya. Namun persoalannya, Prabowo menghadapi fragmentasi internal yang serius. Lingkaran kekuasaan terbelah antara loyalis istana dan sisa jejaring Jokowisme. Dalam situasi seperti ini, setiap langkah yang diambil presiden akan ditafsirkan sebagai manuver politik, bukan kebijakan kenegaraan.

Sejarah Indonesia memberi pelajaran. Presiden Abdurrahman Wahid tumbang bukan karena lemah legitimasi rakyat, melainkan karena gagal mengendalikan fragmentasi elite dan hubungan dengan DPR. Kini, Prabowo menghadapi situasi serupa, hanya dengan wajah yang lebih kompleks karena peran media sosial dan buzzer yang mempercepat arus informasi sekaligus disinformasi. Dalam era digital, delegitimasi bisa dibangun bukan hanya melalui tindakan politik, tetapi juga lewat manipulasi persepsi publik di ruang maya.

Bagi Prabowo, pilihan itu jelas tetapi berat. Ia bisa bertahan dengan pendekatan normatif, namun risiko dituduh lemah dan melakukan pembiaran akan terus menghantui. Atau ia tampil sebagai negarawan yang berani membersihkan lingkar kekuasaan dari infiltrasi politik ganda. Dalam berbagai pidatonya, Prabowo selalu mengutip semboyan “datang bersama rakyat, berjuang bersama rakyat, dan selalu bersama rakyat”. Kini semboyan itu diuji. Apakah ia benar-benar berpihak kepada rakyat, atau sekadar menggunakan rakyat sebagai legitimasi retoris.

Publik hari ini tidak membutuhkan pertarungan narasi elite yang membingungkan, melainkan jaminan stabilitas, rasa aman, dan keadilan sosial yang nyata. Indeks Demokrasi Indonesia 2024 yang dikeluarkan BPS mencatat skor hanya 74,45, turun dari tahun sebelumnya. Angka ini menandakan kualitas demokrasi kita justru menurun meski sudah dua dekade lebih pascareformasi. Jika instabilitas politik 2025 dibiarkan, angka itu bisa merosot lebih jauh, menandai demokrasi yang semakin mundur.

Demo bubarkan DPR yang berujung rusuh pada akhirnya memperlihatkan bahwa Indonesia sedang berada dalam fase kritis, ketika institusi politik tidak hanya kehilangan legitimasi di mata rakyat, tetapi juga dijadikan alat dalam manuver kekuasaan. Kudeta kepagian yang tercium dari skenario ini hanyalah gejala dari persoalan yang lebih mendalam bahwa oligarki politik yang tak segan mengorbankan stabilitas bangsa demi mempertahankan pengaruh. Jalan keluar satu-satunya adalah keberanian presiden untuk membongkar jaringan itu dan menegaskan kembali keberpihakannya kepada rakyat. Jika tidak, sejarah akan mencatat bahwa pemerintahan Prabowo hanyalah mata rantai berikutnya dari siklus kekuasaan yang rapuh, mudah diguncang, dan mudah dibajak oleh syahwat politik jangka pendek.

Berita Terkait

Umpatan Relawan Jokowi kepada Presiden Prabowo: Politik Resistensi atau Strategi Dinasti?
Mens Rea Separatis di Gedung Parlemen Aceh
Triliunan Rupiah untuk Intelijen Digital, Korban Demo Tak Terdeteksi
Triliunan Rupiah Untuk Intelijen Digital, Rakyat Tetap jadi Korban Aksi Anarkis Provokator
Ketika Stockholm Syndrome di Istana
Emas Otsus, Abu di Periuk
Isu Darurat Militer dan Politik Lempar Batu Sembunyi Dalang

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 19:52 WIB

Produk UMKM Lapas Sibolga Kini Hadir di Bandara Silangit

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:17 WIB

Korban Menanti Keadilan, Kapolda Sumut Didesak Evaluasi Kapolsek Medan Baru dan Jajarannya

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:43 WIB

DPC GRIB Jaya Medan Bersama PAC GRIB Jaya Medan Petisah Gelar Jumat Berkah, Ratusan Warga dan Jemaah Masjid Al Hasanah Terima Nasi Kotak

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:04 WIB

Ketua PAC IPK Medan Sunggal Kunjungi Ranting Khusus Tanjung Rejo, Perkuat Soliditas dan Berikan Arahan Organisasi

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:03 WIB

Tuntut Keadilan, Tim Hukum Desak Kapolda Sumut Copot Kapolsek Dan Kanit Reskrim Polsek Medan Baru Atas Dugaan Tangkap Lepas Pelaku Penganiayaan

Senin, 8 Juni 2026 - 15:38 WIB

Kapolsek, Kanit Reskrim dan Penyidik Polsek Medan Baru di Laporkan Ke Propam Polda Sumut

Senin, 8 Juni 2026 - 13:16 WIB

O-Three Station Kualanamu Resmi Dibuka: Rest Area Inklusif Pertama di Dunia dengan Simbol Toleransi

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:30 WIB

Lapas Sibolga Terima Penghargaan Atas Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik Tahun 2025 Ombudsman RI

Berita Terbaru

MEDAN

Produk UMKM Lapas Sibolga Kini Hadir di Bandara Silangit

Minggu, 14 Jun 2026 - 19:52 WIB

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

post 138000906

post 138000907

post 138000908

post 138000909

post 138000910

post 138000911

post 138000912

post 138000913

post 138000914

post 138000915

post 138000916

post 138000917

post 138000918

post 138000919

post 138000920

post 138000921

post 138000922

post 138000923

post 138000924

post 138000925

cuaca 228000631

cuaca 228000632

cuaca 228000633

cuaca 228000634

cuaca 228000635

cuaca 228000636

cuaca 228000637

cuaca 228000638

cuaca 228000639

cuaca 228000640

cuaca 228000641

cuaca 228000642

cuaca 228000643

cuaca 228000644

cuaca 228000645

cuaca 228000646

cuaca 228000647

cuaca 228000648

cuaca 228000649

cuaca 228000650

cuaca 228000651

cuaca 228000652

cuaca 228000653

cuaca 228000654

cuaca 228000655

cuaca 228000656

cuaca 228000657

cuaca 228000658

cuaca 228000659

cuaca 228000660

cuaca 228000661

cuaca 228000662

cuaca 228000663

cuaca 228000664

cuaca 228000665

cuaca 228000666

cuaca 228000667

cuaca 228000668

cuaca 228000669

cuaca 228000670

cuaca 228000671

cuaca 228000672

cuaca 228000673

cuaca 228000674

cuaca 228000675

cuaca 228000676

cuaca 228000677

cuaca 228000678

cuaca 228000679

cuaca 228000680

cuaca 228000681

cuaca 228000682

cuaca 228000683

cuaca 228000684

cuaca 228000685

cuaca 228000686

cuaca 228000687

cuaca 228000688

cuaca 228000689

cuaca 228000690

post 238000581

post 238000582

post 238000583

post 238000584

post 238000585

post 238000586

post 238000587

post 238000588

post 238000589

post 238000590

post 238000591

post 238000592

post 238000593

post 238000594

post 238000595

post 238000596

post 238000597

post 238000598

post 238000599

post 238000600

info 328000541

info 328000542

info 328000543

info 328000544

info 328000545

info 328000546

info 328000547

info 328000548

info 328000549

info 328000550

info 328000551

info 328000552

info 328000553

info 328000554

info 328000555

info 328000556

info 328000557

info 328000558

info 328000559

info 328000560

info 328000561

info 328000562

info 328000563

info 328000564

info 328000565

info 328000566

info 328000567

info 328000568

info 328000569

info 328000570

berita 428011451

berita 428011452

berita 428011453

berita 428011454

berita 428011455

berita 428011456

berita 428011457

berita 428011458

berita 428011459

berita 428011460

berita 428011461

berita 428011462

berita 428011463

berita 428011464

berita 428011465

berita 428011466

berita 428011467

berita 428011468

berita 428011469

berita 428011470

berita 428011471

berita 428011472

berita 428011473

berita 428011474

berita 428011475

berita 428011476

berita 428011477

berita 428011478

berita 428011479

berita 428011480

kajian 638000021

kajian 638000022

kajian 638000023

kajian 638000024

kajian 638000025

kajian 638000026

kajian 638000027

kajian 638000028

kajian 638000029

kajian 638000030

kajian 638000031

kajian 638000032

kajian 638000033

kajian 638000034

kajian 638000035

kajian 638000036

kajian 638000037

kajian 638000038

kajian 638000039

kajian 638000040

kajian 638000041

kajian 638000042

kajian 638000043

kajian 638000044

kajian 638000045

kajian 638000046

kajian 638000047

kajian 638000048

kajian 638000049

kajian 638000050

kajian 638000051

kajian 638000052

kajian 638000053

kajian 638000054

kajian 638000055

article 788000021

article 788000022

article 788000023

article 788000024

article 788000025

article 788000031

article 788000032

article 788000033

article 788000034

article 788000035

article 788000036

article 788000037

article 788000038

article 788000039

article 788000040

article 788000041

article 788000042

article 788000043

article 788000044

article 788000045

article 788000046

article 788000047

article 788000048

article 788000049

article 788000050

article 788000051

article 788000052

article 788000053

article 788000054

article 788000055

article 788000056

article 788000057

article 788000058

article 788000059

article 788000060

news-1701