Izin Tambang untuk Rakyat, Kerusakan untuk Alam

ANTERO NEWS NETWORK

- Redaksi

Senin, 3 November 2025 - 21:30 WIB

50358 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mataram – Di balik jargon “ekonomi kerakyatan” dan “pemberdayaan masyarakat”, kebijakan pemberian Izin Pertambangan Rakyat (IPR) yang akhir-akhir ini semakin marak di berbagai wilayah Nusa Tenggara Barat justru menuai penolakan keras dari berbagai kalangan. Jaringan Aktivis NTB (JA-NTB) bersama Lembaga Studi dan Kajian Hukum Publik (LSKHP), menyuarakan keberatan atas kebijakan ini yang dinilai tidak hanya abai terhadap keselamatan lingkungan hidup, tapi juga menjadi bom waktu bagi konflik sosial dan ancaman terhadap penghidupan masyarakat lokal.

Presiden Jaringan Aktivis NTB, Hamdin, dalam pernyataannya menegaskan bahwa skema IPR yang diklaim pro-rakyat sejatinya hanyalah ilusi kebijakan. “Kami dengan tegas menolak kebijakan obral IPR. Ini bukan solusi ekonomi kerakyatan, ini bentuk lain dari perampasan ruang hidup atas nama legalitas,” kata Hamdin dalam keterangan persnya di Mataram. Ia melihat bahwa IPR selama ini telah menjadi pintu masuk kerusakan ekologis yang sistemik, mulai dari deforestasi besar-besaran, pencemaran air akibat limbah tambang, hingga potensi krisis iklim lokal yang terakumulasi dari degradasi lingkungan terus-menerus.

Praktik pertambangan yang bersembunyi di balik frasa “rakyat” menurut Hamdin, seringkali dijalankan tanpa pengawasan lingkungan yang memadai. Dalam banyak kasus, penggunaan bahan berbahaya seperti merkuri dan sianida terus terjadi, menebar ancaman senyap bagi kehidupan warga. Sungai-sungai tercemar, udara dipenuhi debu tambang, sementara tanah kehilangan kesuburannya. Semua itu terjadi dalam narasi pembangunan yang kian menjauh dari keberpihakan sejati kepada masyarakat. “Ini bukan sekadar masalah lingkungan, ini masalah keadilan sosial dan hak atas hidup,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di lapangan, efek permisif terhadap IPR tidak berhenti pada kerusakan ekologis. Menurut JA-NTB, banyak lahan produktif, entah itu sawah, kebun, atau kawasan resapan air kini beralih fungsi menjadi wilayah tambang. Alih-alih memberdayakan masyarakat, kehadiran pertambangan hanya menggusur ruang hidup mereka. Mata pencaharian yang turun-temurun, baik dari pertanian maupun perikanan, perlahan mati. Rakyat dipaksa memilih antara terlibat dalam tambang ilegal atau menghadapi kondisi ekonomi yang semakin sulit. Pilihan yang sebetulnya jebakan kebijakan.

Hamdin juga menyoroti bahwa keberadaan IPR sering kali menimbulkan konflik horizontal. Di sejumlah tempat, masyarakat saling berseteru antara pro dan kontra tambang, atau bahkan berhadapan langsung dengan aparat keamanan dan pemegang izin. Sayangnya, menurut JA-NTB, negara kerap berpihak pada korporasi atau aktor ekonomi yang membonceng izin resmi. Sementara, masyarakat yang mempertahankan tanah dan lingkungannya dari pengerukan tambang justru dilabeli sebagai penghambat pembangunan atau bahkan dikriminalisasi berdasarkan Undang-Undang Minerba. “Kehadiran negara seringkali absen ketika rakyat terancam, tapi cepat bertindak saat ada investor terancam,” kata Hamdin.

Lebih jauh, JA-NTB menuding bahwa skema IPR telah berubah menjadi celah legal untuk eksploitasi skala besar oleh pemilik modal berkedok “rakyat”. Di banyak lokasi, praktiknya dilakukan oleh alat-alat berat, perusahaan tambang dengan modal besar, serta oknum-oknum pemerintah yang menjadikan regulasi hanya sebagai formalitas legalistik. “IPR ini rawan disalahgunakan, dan ini bukan asumsi, ini fakta di lapangan,” ujarnya. Mereka menilai, negara seolah sengaja menutup mata demi mengejar target investasi dan pertumbuhan ekonomi jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampak ekologis yang harus ditanggung dalam puluhan tahun ke depan.

Dalam pernyataan sikapnya, JA-NTB LSKHP membeberkan sejumlah tuntutan. Mereka meminta pemerintah segera melakukan moratorium terhadap seluruh penerbitan IPR baru, serta melakukan evaluasi mendalam terhadap izin-izin yang telah berjalan. Izin tambang yang terbukti merusak ruang hidup masyarakat, menurut mereka, harus dicabut tanpa kompromi. “Pemerintah harus memilih: menyelamatkan lingkungan dan masa depan rakyat, atau terus mengejar keuntungan sementara dengan mengorbankan tanah dan air kami,” ungkap Hamdin.

Tuntutan semakin menguat ketika mereka secara terbuka menyebut nama-nama pejabat tinggi daerah sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Kapolda NTB, Irjen Pol Hadi Gunawan, dan Gubernur NTB, Muhammad Ikbal, dinilai telah menggunakan kekuasaan untuk mempercepat proses perizinan dan cenderung melindungi kepentingan segelintir elite. Atas dasar itu, JA-NTB mendesak keduanya untuk mundur dari jabatannya. Tak hanya itu, mereka juga menyerukan agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo segera memeriksa kinerja Kapolda NTB, serta menuntut Presiden Prabowo Subianto untuk mengadili Gubernur NTB yang dituduh menyalahgunakan wewenang demi keuntungan pribadi.

“Kami tidak sedang main-main. Ini tangisan masyarakat yang ruang hidupnya direnggut oleh logika tambang. Kami ingin negara hadir untuk keselamatan rakyat, bukan untuk abdi modal,” kata Hamdin penuh nada geram. Dalam pernyataan yang dibacakan di depan media, JA-NTB menyampaikan bahwa belum pernah ada cerita sukses mengenai industri ekstraktif yang berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. Justru sebaliknya, sektor ini kerap meninggalkan jejak luka ekologis yang panjang, meninggalkan masyarakat dengan tanah rusak, air tercemar, dan udara kotor.

Pernyataan sikap ini ditutup dengan seruan moral agar pemerintah pusat tidak hanya mengevaluasi kebijakan IPR, namun juga memperkuat restrukturisasi paradigma pembangunan. Bahwa pembangunan sejati, kata Hamdin, bukan tentang menggali tanah sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan generasi mendatang masih punya pohon, air bersih, udara segar, dan lahan subur untuk hidup. “Bila negara terus berlaku sebagai makelar tambang, maka jangan heran jika rakyat memilih jalan perlawanan,” katanya.

Sampai hari ini, suara penolakan terus menggema dari penjuru NTB, menggugah kesadaran bahwa kemewahan pertumbuhan ekonomi tak boleh dibayar dengan hancurnya sumber-sumber kehidupan. JA-NTB LSKHP menyatakan, perjuangan ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal keberlanjutan martabat manusia di atas tanahnya sendiri. (TIM)

Berita Terkait

‎Korban Pengrusakan Rumah dan Mobil di Medan Labuhan Resmi Lapor ke Polisi
HBP ke-62, Rutan Kelas I Medan Wujudkan Pelayanan Prima melalui Apresiasi dan Aksi Sosial
Eks Kakanwil BPN Sumut Askani: Tak Ada Penyerahan 20 Persen dalam Pemberian HGB PT NDP
Tasyakuran Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62: Membangun Semangat Baru dalam Melayani Masyarakat
Rehab RTLH TMMD 128 Langkat,Harapan Baru Bagi Warga Kurang Mampu
Pemeriksaan Kesehatan Terpadu HBP ke-62, 184 Petugas dan Ibu Dharma Wanita Ikuti Layanan di Lapas Kelas I Medan
Tak Hanya Apel, Lapas Lubuk Pakam dan BNN Perkuat Sinergi Lewat Olahraga Bersama
Polsek Perbaungan Polres Sergai Tangkap Dua Pelaku Pencurian Motor, Sabu Turut Diamankan

Berita Terkait

Selasa, 7 Juli 2026 - 18:54 WIB

Puluhan Mamak-Mamak Datangi Polsek Tanjung Morawa, Desak Polisi Segera Tangkap Gerombolan DP Cs

Senin, 6 Juli 2026 - 21:26 WIB

Resepsi Pernikahan Aura dan Rizki Berlangsung Penuh Kebahagiaan, Ratusan Tamu Undangan Doakan Semoga Menjadi Keluarga Yang Sakinah Mawaddah Warahmah

Jumat, 3 Juli 2026 - 12:24 WIB

Gelar Jumat Sehat, Plt. Kepala Lapas Narkotika Langkat Pimpin Jalan Santai Sekaligus Kontrol Area Brandgang

Kamis, 2 Juli 2026 - 22:04 WIB

Tingkatkan Jasmani dan Sportivitas WBP, Lapas Narkotika Langkat Resmi Buka Turnamen Mini Soccer “Plt KALAPAS CUP”

Kamis, 2 Juli 2026 - 13:03 WIB

Kanwil Ditjenpas Sumut lakukan Pemeriksaan Lanjutan Warga Binaan Terkait Dugaan Kasus Love Scamming

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:33 WIB

Tingkatkan Motivasi dan Imunitas, Lapas Narkotika Langkat Gelar Apel Penghargaan Pegawai Teladan dan Pembagian Vitamin

Kamis, 2 Juli 2026 - 07:59 WIB

Antisipasi Gangguan Kamtib, Lapas Narkotika Langkat Gandeng TNI-Polri Gelar Razia Gabungan Blok Hunian

Rabu, 1 Juli 2026 - 19:35 WIB

Tembus Rp7,08T, Laba Bersih PTPN IV PalmCo Melonjak 90,3 Persen pada 2025, Ditopang Produksi dan Efisiensi

Berita Terbaru

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

post 138000906

post 138000907

post 138000908

post 138000909

post 138000910

post 138000911

post 138000912

post 138000913

post 138000914

post 138000915

post 138000916

post 138000917

post 138000918

post 138000919

post 138000920

post 138000921

post 138000922

post 138000923

post 138000924

post 138000925

cuaca 228000631

cuaca 228000632

cuaca 228000633

cuaca 228000634

cuaca 228000635

cuaca 228000636

cuaca 228000637

cuaca 228000638

cuaca 228000639

cuaca 228000640

cuaca 228000641

cuaca 228000642

cuaca 228000643

cuaca 228000644

cuaca 228000645

cuaca 228000646

cuaca 228000647

cuaca 228000648

cuaca 228000649

cuaca 228000650

cuaca 228000651

cuaca 228000652

cuaca 228000653

cuaca 228000654

cuaca 228000655

cuaca 228000656

cuaca 228000657

cuaca 228000658

cuaca 228000659

cuaca 228000660

cuaca 228000661

cuaca 228000662

cuaca 228000663

cuaca 228000664

cuaca 228000665

cuaca 228000666

cuaca 228000667

cuaca 228000668

cuaca 228000669

cuaca 228000670

cuaca 228000671

cuaca 228000672

cuaca 228000673

cuaca 228000674

cuaca 228000675

cuaca 228000676

cuaca 228000677

cuaca 228000678

cuaca 228000679

cuaca 228000680

cuaca 228000681

cuaca 228000682

cuaca 228000683

cuaca 228000684

cuaca 228000685

cuaca 228000686

cuaca 228000687

cuaca 228000688

cuaca 228000689

cuaca 228000690

post 238000581

post 238000582

post 238000583

post 238000584

post 238000585

post 238000586

post 238000587

post 238000588

post 238000589

post 238000590

post 238000591

post 238000592

post 238000593

post 238000594

post 238000595

post 238000596

post 238000597

post 238000598

post 238000599

post 238000600

info 328000541

info 328000542

info 328000543

info 328000544

info 328000545

info 328000546

info 328000547

info 328000548

info 328000549

info 328000550

info 328000551

info 328000552

info 328000553

info 328000554

info 328000555

info 328000556

info 328000557

info 328000558

info 328000559

info 328000560

info 328000561

info 328000562

info 328000563

info 328000564

info 328000565

info 328000566

info 328000567

info 328000568

info 328000569

info 328000570

berita 428011451

berita 428011452

berita 428011453

berita 428011454

berita 428011455

berita 428011456

berita 428011457

berita 428011458

berita 428011459

berita 428011460

berita 428011461

berita 428011462

berita 428011463

berita 428011464

berita 428011465

berita 428011466

berita 428011467

berita 428011468

berita 428011469

berita 428011470

berita 428011471

berita 428011472

berita 428011473

berita 428011474

berita 428011475

berita 428011476

berita 428011477

berita 428011478

berita 428011479

berita 428011480

kajian 638000021

kajian 638000022

kajian 638000023

kajian 638000024

kajian 638000025

kajian 638000026

kajian 638000027

kajian 638000028

kajian 638000029

kajian 638000030

kajian 638000031

kajian 638000032

kajian 638000033

kajian 638000034

kajian 638000035

kajian 638000036

kajian 638000037

kajian 638000038

kajian 638000039

kajian 638000040

kajian 638000041

kajian 638000042

kajian 638000043

kajian 638000044

kajian 638000045

kajian 638000046

kajian 638000047

kajian 638000048

kajian 638000049

kajian 638000050

kajian 638000051

kajian 638000052

kajian 638000053

kajian 638000054

kajian 638000055

article 788000021

article 788000022

article 788000023

article 788000024

article 788000025

article 788000031

article 788000032

article 788000033

article 788000034

article 788000035

article 788000036

article 788000037

article 788000038

article 788000039

article 788000040

article 788000041

article 788000042

article 788000043

article 788000044

article 788000045

article 788000046

article 788000047

article 788000048

article 788000049

article 788000050

article 788000051

article 788000052

article 788000053

article 788000054

article 788000055

article 788000056

article 788000057

article 788000058

article 788000059

article 788000060

news-1701