Ketika Stockholm Syndrome di Istana

ANTERO NEWS NETWORK

- Redaksi

Minggu, 7 September 2025 - 23:30 WIB

50268 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

Bangsa yang besar bukan dilahirkan dari kesunyian kepatuhan, melainkan dari gelora kecamuk yang menuntut keadilan. Namun akhir-akhir ini, peta politik kita memperlihatkan paradoks menyakitkan, ketika rakyat berteriak karena luka sosial-ekonomi dan praktik elit yang tampak jauh dari akal sehat publik, jawaban yang muncul kerap berupa represi, retoris pengalihan isu, dan yang paling berbahaya yakni pelindungan terhadap arsitektur lama yang menyebabkan luka itu sendiri. Inilah konteks di balik sebutan pedas tentang Stockholm syndrome di istana, metafora yang menggambarkan pemimpin yang tampak terikat pada kaum yang justru merugikan konstituen mereka.

Katalis protes akhir Agustus 2p25 yang bermula dari kecaman terhadap tunjangan parlemen yang dinilai berlebihan, berubah menjadi gelombang nasional setelah video seorang pengemudi ojek/delivery yang tertabrak kendaraan taktis polisi beredar luas dan memicu kemarahan publik. Peristiwa yang memicu protes ini bukan kabar simpang-siur bahkwan liputan internasional dan lokal merekam insiden tersebut serta reaksi publik yang meluas ke banyak kota.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Skala reaksi negara juga tercermin dalam angka-angka keras yaitu organisasi hak asasi menilai otoritas telah menahan ribuan orang dalam gelombang penindakan sejak akhir Agustus 2025 sebagai sebuah respons yang memicu seruan untuk penyelidikan independen atas penggunaan kekuatan dan praktik penahanan yang diduga sewenang-wenang. Kritik internasional tidak kalah keras, lembaga HAM menuntut agar hak berkumpul dan kebebasan berekspresi tidak direduksi menjadi dalih keamanan semata.

Dampak politik terjemahkan cepat ke ranah ekonomi. Pasar merespons eskalasi dengan menjual aset berisiko berupa indeks saham regional tertekan dan rupiah melemah saat ketegangan memuncak, sinyal bahwa investor memandang ketidakstabilan politik sebagai risiko nyata terhadap prospek ekonomi jangka pendek. Ketika politik menggerus sentimen pasar, imbasnya langsung terasa di kantong masyarakat kecil berupa inflasi, ketidakpastian pekerjaan, dan tekanan biaya hidup yang sudah menjadi bahan bakar keresahan.

Di lapangan wacana, medan pertempuran adalah media sosial dari ajakan aksi yang asli sampai narasi terkoordinasi yang mengubah tuntutan menjadi slogan-slogan radikal. Platform digital memperbesar polarisasi dan memperpendek jarak antara provokasi dan kerusuhan. Analisis tentang fenomena ini mengingatkan kita bahwa gerakan massa saat ini jarang monolitik, ia adalah campuran aktivisme sipil, aksi spontan kaum marjinal, aktor politik yang ingin memanfaatkan momentum, dan kadang kelompok yang sengaja mengobarkan ketegangan. Tanpa investigasi menyeluruh, negara cenderung mengeneralisasi dan menghukum massa, bukan mencari akar penyebab.

Mengapa istilah “Stockholm syndrome” muncul untuk mendeskripsikan perilaku pemimpin? Dalam literatur psikologi istilah ini problematik sebagai diagnosis klinis, bukan kategori resmi yang mudah dipindahkan ke ranah politik, tetapi sebagai istilah efektif:l menggambarkan situasi di mana penguasa tampak mempertahankan atau berkolusi dengan struktur yang selama ini merugikan rakyat. Kajian akademik merekomendasikan kehati-hatian, jangan sekadar menukar istilah klinis menjadi tuduhan politik tanpa dasar empiris; namun, ketika perilaku kebijakan konsisten mengafirmasi status quo yang merugikan mayoritas, pertanyaan tentang capture institusi yang “ditangkap” kepentingan elit menjadi sah dan mendesak.

Apa yang mesti dilakukan sekarang, selain retorika tajam dan kecaman moral? Pertama, negara wajib membuka ruang penyelidikan independen tentang fakta tentang kematian, dugaan penyalahgunaan kekuatan, dan pola penahanan massal harus diungkap tanpa pilih kasih. Kedua, transparansi anggaran dan mekanisme audit atas tunjangan dan fasilitas politik harus dipercepat, wajar jika publik menuntut akuntabilitas ketika pemotongan anggaran daerah dan tekanan ekonomi menimpa rakyat. Ketiga, aparat penegak hukum harus direformasi agar kepolisian dan lembaga terkait bertanggung jawab secara profesional, bukan instrumen politik untuk membungkam perbedaan. Keempat, mitigasi terhadap disinformasi perlu didesain sambil menjaga kebebasan berekspresi demi keseimbangan yang sulit namun krusial.

Menuntut pertanggungjawaban bukan berarti memicu anarki. Jalan konstitusional adalah hak interpelasi, panitia khusus, penyelidikan legislatif, gugatan hukum, dan pemilihan umum yang merupakan instrumen yang mempertebal legitimasi perubahan. Sementara itu, gerakan sipil harus memfokuskan tekanan pada bukti, kebijakan, dan tuntutan terukur, bukannya menyeru kekerasan, mereka mesti menghadirkan data, saksi, dan alat hukum yang memaksa institusi bertindak.

Akhirnya, jika pemimpin terus memilih melindungi struktur yang memperpetuasi ketidakadilan, istilah “Stockholm syndrome di istana” akan menjadi lebih dari metafora sarkastik yang menjadi catatan sejarah yang menuduh bahwa pemimpin yang tak sanggup melepaskan diri dari kepentingan lama, sementara rakyat menanggung beban. Demokrasi butuh tubuh institusional yang sehat, ketika institusi itu sakit dan dipelihara, yang dirugikan bukan hanya hari ini, melainkan masa depan republik ini.

Berita Terkait

Umpatan Relawan Jokowi kepada Presiden Prabowo: Politik Resistensi atau Strategi Dinasti?
Mens Rea Separatis di Gedung Parlemen Aceh
Triliunan Rupiah untuk Intelijen Digital, Korban Demo Tak Terdeteksi
Triliunan Rupiah Untuk Intelijen Digital, Rakyat Tetap jadi Korban Aksi Anarkis Provokator
Kudeta Kepagian di Jalanan
Emas Otsus, Abu di Periuk
Isu Darurat Militer dan Politik Lempar Batu Sembunyi Dalang

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 19:52 WIB

Produk UMKM Lapas Sibolga Kini Hadir di Bandara Silangit

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:17 WIB

Korban Menanti Keadilan, Kapolda Sumut Didesak Evaluasi Kapolsek Medan Baru dan Jajarannya

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:43 WIB

DPC GRIB Jaya Medan Bersama PAC GRIB Jaya Medan Petisah Gelar Jumat Berkah, Ratusan Warga dan Jemaah Masjid Al Hasanah Terima Nasi Kotak

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:04 WIB

Ketua PAC IPK Medan Sunggal Kunjungi Ranting Khusus Tanjung Rejo, Perkuat Soliditas dan Berikan Arahan Organisasi

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:03 WIB

Tuntut Keadilan, Tim Hukum Desak Kapolda Sumut Copot Kapolsek Dan Kanit Reskrim Polsek Medan Baru Atas Dugaan Tangkap Lepas Pelaku Penganiayaan

Senin, 8 Juni 2026 - 15:38 WIB

Kapolsek, Kanit Reskrim dan Penyidik Polsek Medan Baru di Laporkan Ke Propam Polda Sumut

Senin, 8 Juni 2026 - 13:16 WIB

O-Three Station Kualanamu Resmi Dibuka: Rest Area Inklusif Pertama di Dunia dengan Simbol Toleransi

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:30 WIB

Lapas Sibolga Terima Penghargaan Atas Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik Tahun 2025 Ombudsman RI

Berita Terbaru

MEDAN

Produk UMKM Lapas Sibolga Kini Hadir di Bandara Silangit

Minggu, 14 Jun 2026 - 19:52 WIB

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

post 138000906

post 138000907

post 138000908

post 138000909

post 138000910

post 138000911

post 138000912

post 138000913

post 138000914

post 138000915

post 138000916

post 138000917

post 138000918

post 138000919

post 138000920

post 138000921

post 138000922

post 138000923

post 138000924

post 138000925

cuaca 228000631

cuaca 228000632

cuaca 228000633

cuaca 228000634

cuaca 228000635

cuaca 228000636

cuaca 228000637

cuaca 228000638

cuaca 228000639

cuaca 228000640

cuaca 228000641

cuaca 228000642

cuaca 228000643

cuaca 228000644

cuaca 228000645

cuaca 228000646

cuaca 228000647

cuaca 228000648

cuaca 228000649

cuaca 228000650

cuaca 228000651

cuaca 228000652

cuaca 228000653

cuaca 228000654

cuaca 228000655

cuaca 228000656

cuaca 228000657

cuaca 228000658

cuaca 228000659

cuaca 228000660

cuaca 228000661

cuaca 228000662

cuaca 228000663

cuaca 228000664

cuaca 228000665

cuaca 228000666

cuaca 228000667

cuaca 228000668

cuaca 228000669

cuaca 228000670

cuaca 228000671

cuaca 228000672

cuaca 228000673

cuaca 228000674

cuaca 228000675

cuaca 228000676

cuaca 228000677

cuaca 228000678

cuaca 228000679

cuaca 228000680

cuaca 228000681

cuaca 228000682

cuaca 228000683

cuaca 228000684

cuaca 228000685

cuaca 228000686

cuaca 228000687

cuaca 228000688

cuaca 228000689

cuaca 228000690

post 238000581

post 238000582

post 238000583

post 238000584

post 238000585

post 238000586

post 238000587

post 238000588

post 238000589

post 238000590

post 238000591

post 238000592

post 238000593

post 238000594

post 238000595

post 238000596

post 238000597

post 238000598

post 238000599

post 238000600

info 328000541

info 328000542

info 328000543

info 328000544

info 328000545

info 328000546

info 328000547

info 328000548

info 328000549

info 328000550

info 328000551

info 328000552

info 328000553

info 328000554

info 328000555

info 328000556

info 328000557

info 328000558

info 328000559

info 328000560

info 328000561

info 328000562

info 328000563

info 328000564

info 328000565

info 328000566

info 328000567

info 328000568

info 328000569

info 328000570

berita 428011451

berita 428011452

berita 428011453

berita 428011454

berita 428011455

berita 428011456

berita 428011457

berita 428011458

berita 428011459

berita 428011460

berita 428011461

berita 428011462

berita 428011463

berita 428011464

berita 428011465

berita 428011466

berita 428011467

berita 428011468

berita 428011469

berita 428011470

berita 428011471

berita 428011472

berita 428011473

berita 428011474

berita 428011475

berita 428011476

berita 428011477

berita 428011478

berita 428011479

berita 428011480

kajian 638000021

kajian 638000022

kajian 638000023

kajian 638000024

kajian 638000025

kajian 638000026

kajian 638000027

kajian 638000028

kajian 638000029

kajian 638000030

kajian 638000031

kajian 638000032

kajian 638000033

kajian 638000034

kajian 638000035

kajian 638000036

kajian 638000037

kajian 638000038

kajian 638000039

kajian 638000040

kajian 638000041

kajian 638000042

kajian 638000043

kajian 638000044

kajian 638000045

kajian 638000046

kajian 638000047

kajian 638000048

kajian 638000049

kajian 638000050

kajian 638000051

kajian 638000052

kajian 638000053

kajian 638000054

kajian 638000055

article 788000021

article 788000022

article 788000023

article 788000024

article 788000025

article 788000031

article 788000032

article 788000033

article 788000034

article 788000035

article 788000036

article 788000037

article 788000038

article 788000039

article 788000040

article 788000041

article 788000042

article 788000043

article 788000044

article 788000045

article 788000046

article 788000047

article 788000048

article 788000049

article 788000050

article 788000051

article 788000052

article 788000053

article 788000054

article 788000055

article 788000056

article 788000057

article 788000058

article 788000059

article 788000060

news-1701