Isu Darurat Militer dan Politik Lempar Batu Sembunyi Dalang

ANTERO NEWS NETWORK

- Redaksi

Minggu, 7 September 2025 - 23:26 WIB

50190 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

AKAL sehat bangsa ini sedang diputarbalikkan. Instrumen keamanan negara seolah kehilangan kemampuan mengidentifikasi siapa musuh sebenarnya, sementara ruang publik dipenuhi narasi yang menyesatkan. Bahkan sebagian mahasiswa yang dulu dikenal sebagai moral force kini tampak diam, ketika skandal demi skandal yang menyeret keluarga mantan presiden berimplikasi pada keterbelahan bangsa. Krisis politik yang kita saksikan hari ini bukanlah peristiwa tiba-tiba, melainkan warisan dari satu dekade kepemimpinan Jokowi yang penuh dengan gaya kepemimpinan otoritarian personal, dibalut syahwat kekuasaan dan tradisi politik. Genk Isu Darurat Militer dan Politik Lempar Batu Sembunyi Dalang

Akal sehat bangsa ini sedang diputarbalikkan. Instrumen keamanan negara seolah kehilangan kemampuan mengidentifikasi siapa musuh sebenarnya, sementara ruang publik dipenuhi narasi yang menyesatkan. Bahkan sebagian mahasiswa yang dulu dikenal sebagai moral force kini tampak diam, ketika skandal demi skandal yang menyeret keluarga mantan presiden berimplikasi pada keterbelahan bangsa. Krisis politik yang kita saksikan hari ini bukanlah peristiwa tiba-tiba, melainkan warisan dari satu dekade kepemimpinan Jokowi yang penuh dengan gaya kepemimpinan otoritarian personal, dibalut syahwat kekuasaan dan tradisi politik Jawa yang menolak ikhlas menjadi nomor dua. Genk Solo adalah representasi paling vulgar dari kultur itu, sebuah pola kekuasaan yang memandang suksesi sebagai ancaman, bukan keniscayaan demokrasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertanyaannya, siapa yang diuntungkan dari kerusuhan dan penjarahan dalam peristiwa Agustus Kelabu? Sejarah politik Indonesia mencatat, setiap kerusuhan besar hampir selalu melahirkan “pemenang politik” di balik layar. Publik berhak curiga bahwa rakyat sengaja dikorbankan untuk melanggengkan syahwat kekuasaan elite. Demonstrasi menuntut keadilan sosial bisa dengan mudah direkayasa menjadi kerusuhan, karena ada aktor intelektual dengan mens rea yang jelas yakni ambisi merebut kekuasaan. Ironinya, ketika jejak provokator sudah begitu kasat mata, yang terjadi justru salah bidik aparat: rakyat dituding provokator, sementara dalang di balik layar aman dalam kamuflase politik.

Narasi yang menyebut TNI akan menerapkan darurat militer adalah contoh paling terang dari strategi “lempar batu sembunyi tangan”. Dalam literatur politik, teori scapegoating menyebut bahwa kelompok berkuasa sering menciptakan musuh imajiner untuk mengalihkan krisis legitimasi. Padahal, TNI setidaknya pasca reformasi jelas memegang teguh identitasnya sebagai tentara rakyat dan nasional. Tidak ada syarat hukum dan politik yang terpenuhi untuk memberlakukan darurat militer. Maka, tudingan itu bukan saja suuzon, melainkan strategi untuk membangun opini bahwa negara dalam keadaan gagal, sehingga presiden bisa dipaksa mundur. Dalam konteks ini, wajar bila kecurigaan publik diarahkan pada lingkaran Jokowi yang masih berhasrat mengendalikan kursi presiden, meski era kepemimpinannya sudah berakhir.

Fenomena “lempar batu sembunyi dalang” ini persis seperti dikritik Tan Malaka dalam Madilog bahwa politik penuh manipulasi sering menyamarkan sebab-akibat demi melanggengkan kepentingan kelas berkuasa. Begitu pula Sun Tzu dalam The Art of War menegaskan, “All warfare is based on deception (Semua peperangan didasarkan pada tipu daya)”. Politik Indonesia hari ini sedang dijalankan dengan strategi tipu daya: menciptakan chaos untuk menutupi siasat makar. Bahkan Al-Qur’an telah memberi peringatan, bahwa para perusak sering tampil dengan wajah reformis: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya merekalah para perusak, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS. Al-Baqarah: 11–12).

Perubahan narasi demo dari “adili Jokowi dan makzulkan Gibran lewat DPR” menjadi “bubarkan DPR” memperlihatkan adanya operasi politik tingkat tinggi. Amarah rakyat atas gaya hidup hedonis anggota DPR dijadikan legitimasi untuk melemahkan lembaga legislatif, sekaligus menciptakan kesan bahwa demokrasi gagal. Strategi ini berbahaya, karena membuka ruang kudeta merayap terhadap pemerintahan Presiden Prabowo. Dengan kata lain, Jokowi tengah memainkan politik “angkot” yang menurunkan penumpang di mana saja jika dianggap menghalangi jalan dinasti.

Sejarah politik Indonesia mulai dari kerusuhan 1965, 1998, hingga konflik elite kontemporer, selalu memperlihatkan pola serupa yaitu rakyat dipaksa menjadi korban, sementara aktor elite bernegosiasi di belakang layar. Kini pola itu berulang dengan wajah baru, lebih terorganisir, lebih sistematis, dan lebih berbahaya. Jika benar ini adalah skenario makar, maka bangsa ini sedang diuji apakah masih punya kesadaran kolektif untuk melawan politik tipu daya yang menggerus nilai kebangsaan.

Bangsa ini tidak boleh terus-menerus tersandera oleh satu keluarga dinasti. Jalan keluarnya bukan menyerah pada narasi chaos, melainkan mencari, menemukan, dan menyingkap siapa sebenarnya pengkhianat bangsa. Dalam filsafat dialektika materialisme, konflik hanya bisa diurai jika akar penyebabnya dibongkar secara objektif, bukan ditutupi oleh retorika. Demokrasi harus dibersihkan dari politik keluarga, politik patronase, dan politik lempar batu sembunyi dalang. Hanya dengan itu bangsa ini bisa kembali pada marwahnya yang bermartabat, berdaulat, dan berkepribadian.

Berita Terkait

Umpatan Relawan Jokowi kepada Presiden Prabowo: Politik Resistensi atau Strategi Dinasti?
Mens Rea Separatis di Gedung Parlemen Aceh
Triliunan Rupiah untuk Intelijen Digital, Korban Demo Tak Terdeteksi
Triliunan Rupiah Untuk Intelijen Digital, Rakyat Tetap jadi Korban Aksi Anarkis Provokator
Kudeta Kepagian di Jalanan
Ketika Stockholm Syndrome di Istana
Emas Otsus, Abu di Periuk

Berita Terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 19:52 WIB

Produk UMKM Lapas Sibolga Kini Hadir di Bandara Silangit

Jumat, 12 Juni 2026 - 23:17 WIB

Korban Menanti Keadilan, Kapolda Sumut Didesak Evaluasi Kapolsek Medan Baru dan Jajarannya

Jumat, 12 Juni 2026 - 20:43 WIB

DPC GRIB Jaya Medan Bersama PAC GRIB Jaya Medan Petisah Gelar Jumat Berkah, Ratusan Warga dan Jemaah Masjid Al Hasanah Terima Nasi Kotak

Rabu, 10 Juni 2026 - 22:04 WIB

Ketua PAC IPK Medan Sunggal Kunjungi Ranting Khusus Tanjung Rejo, Perkuat Soliditas dan Berikan Arahan Organisasi

Selasa, 9 Juni 2026 - 20:03 WIB

Tuntut Keadilan, Tim Hukum Desak Kapolda Sumut Copot Kapolsek Dan Kanit Reskrim Polsek Medan Baru Atas Dugaan Tangkap Lepas Pelaku Penganiayaan

Senin, 8 Juni 2026 - 15:38 WIB

Kapolsek, Kanit Reskrim dan Penyidik Polsek Medan Baru di Laporkan Ke Propam Polda Sumut

Senin, 8 Juni 2026 - 13:16 WIB

O-Three Station Kualanamu Resmi Dibuka: Rest Area Inklusif Pertama di Dunia dengan Simbol Toleransi

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:30 WIB

Lapas Sibolga Terima Penghargaan Atas Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik Tahun 2025 Ombudsman RI

Berita Terbaru

MEDAN

Produk UMKM Lapas Sibolga Kini Hadir di Bandara Silangit

Minggu, 14 Jun 2026 - 19:52 WIB

news-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

post 138000906

post 138000907

post 138000908

post 138000909

post 138000910

post 138000911

post 138000912

post 138000913

post 138000914

post 138000915

post 138000916

post 138000917

post 138000918

post 138000919

post 138000920

post 138000921

post 138000922

post 138000923

post 138000924

post 138000925

cuaca 228000631

cuaca 228000632

cuaca 228000633

cuaca 228000634

cuaca 228000635

cuaca 228000636

cuaca 228000637

cuaca 228000638

cuaca 228000639

cuaca 228000640

cuaca 228000641

cuaca 228000642

cuaca 228000643

cuaca 228000644

cuaca 228000645

cuaca 228000646

cuaca 228000647

cuaca 228000648

cuaca 228000649

cuaca 228000650

cuaca 228000651

cuaca 228000652

cuaca 228000653

cuaca 228000654

cuaca 228000655

cuaca 228000656

cuaca 228000657

cuaca 228000658

cuaca 228000659

cuaca 228000660

cuaca 228000661

cuaca 228000662

cuaca 228000663

cuaca 228000664

cuaca 228000665

cuaca 228000666

cuaca 228000667

cuaca 228000668

cuaca 228000669

cuaca 228000670

cuaca 228000671

cuaca 228000672

cuaca 228000673

cuaca 228000674

cuaca 228000675

cuaca 228000676

cuaca 228000677

cuaca 228000678

cuaca 228000679

cuaca 228000680

cuaca 228000681

cuaca 228000682

cuaca 228000683

cuaca 228000684

cuaca 228000685

cuaca 228000686

cuaca 228000687

cuaca 228000688

cuaca 228000689

cuaca 228000690

post 238000581

post 238000582

post 238000583

post 238000584

post 238000585

post 238000586

post 238000587

post 238000588

post 238000589

post 238000590

post 238000591

post 238000592

post 238000593

post 238000594

post 238000595

post 238000596

post 238000597

post 238000598

post 238000599

post 238000600

info 328000541

info 328000542

info 328000543

info 328000544

info 328000545

info 328000546

info 328000547

info 328000548

info 328000549

info 328000550

info 328000551

info 328000552

info 328000553

info 328000554

info 328000555

info 328000556

info 328000557

info 328000558

info 328000559

info 328000560

info 328000561

info 328000562

info 328000563

info 328000564

info 328000565

info 328000566

info 328000567

info 328000568

info 328000569

info 328000570

berita 428011451

berita 428011452

berita 428011453

berita 428011454

berita 428011455

berita 428011456

berita 428011457

berita 428011458

berita 428011459

berita 428011460

berita 428011461

berita 428011462

berita 428011463

berita 428011464

berita 428011465

berita 428011466

berita 428011467

berita 428011468

berita 428011469

berita 428011470

berita 428011471

berita 428011472

berita 428011473

berita 428011474

berita 428011475

berita 428011476

berita 428011477

berita 428011478

berita 428011479

berita 428011480

kajian 638000021

kajian 638000022

kajian 638000023

kajian 638000024

kajian 638000025

kajian 638000026

kajian 638000027

kajian 638000028

kajian 638000029

kajian 638000030

kajian 638000031

kajian 638000032

kajian 638000033

kajian 638000034

kajian 638000035

kajian 638000036

kajian 638000037

kajian 638000038

kajian 638000039

kajian 638000040

kajian 638000041

kajian 638000042

kajian 638000043

kajian 638000044

kajian 638000045

kajian 638000046

kajian 638000047

kajian 638000048

kajian 638000049

kajian 638000050

kajian 638000051

kajian 638000052

kajian 638000053

kajian 638000054

kajian 638000055

article 788000021

article 788000022

article 788000023

article 788000024

article 788000025

article 788000031

article 788000032

article 788000033

article 788000034

article 788000035

article 788000036

article 788000037

article 788000038

article 788000039

article 788000040

article 788000041

article 788000042

article 788000043

article 788000044

article 788000045

article 788000046

article 788000047

article 788000048

article 788000049

article 788000050

article 788000051

article 788000052

article 788000053

article 788000054

article 788000055

article 788000056

article 788000057

article 788000058

article 788000059

article 788000060

news-1701